Monday, May 13, 2019

legenda



Picture by Ofan


ASAL USUL WATU TEDON
Secara Etimologi Watu Tedon terdiri dari dua kata yaitu watu, dan tedon (dalam bahasa daerah Riung Barat) watu yang artinya batu dan Tedon artinya tersusun bagian atasnya. Atau dalam arti yang luas Watu Tedon adalah sebuah batu yang ditindih diatas batu lainnya.
 Desa wolomeze 1 merupakan sebuah desa yang ada dikecamatan Riung Barat, di desa ini terdapat sebuah batu besar yang sangat unik dan masyarakat setempat menyebutnya Watu Tedon. Lokasi Watu Tedon ini berada di perkebunan warga yang jaraknya relative dekat dengan kampung Nampe desa Wolomeze 1, dengan jaraknya sekitar 2 km dari lokasi dimana Watu     Tedon itu berada. Menurut cerita yang beredar dimasyarakat Watu Tedon ini bukanlah sebuah batu  biasa tapi awal mulanya adalah manusia, yang menjelma menjadi batu. Ada beberapa sumber lisan berpendapat bahwa batu ini muncul sebelum bangsa Indonesia merdeka dan di perkirakan kejadian ini  sekitar tahun 1920 –an, hal ini memiliki bukti yang cukup kuat karena di danau Ngandong masih terdapat sisa tiang rumah penduduk  sampai saat ini.
Kisah Watu Tedon  berawal dari sebuah fenomena supranatural disalah satu daerah di Manggarai Timur dan nama daerah tersebut yaitu kampung Ngandong (Sekarang danau Ngandong).Secara administrative danau Ngandong terletak di desa Golo Lebo, kecamatan Elar, kabupaten Manggarai Timur. Peristiwa di Ngandong bermula dari dua perempuan yang kebetulan pada saat itu tinggal dikampung, sedangkan warga lainnya banyak melakukan aktivitas yaitu dikebun mereka masing masing,dikarenakan masyarakat Ngandong pada saat itu mayoritas penduduknya adalah sebagai petani. Pada saat itu kampung Ngandong lagi diguyur hujan di siang harinya, sehingga kedua perempuan itu tetap tinggal didalam rumahnya masing- masing.Tetapi diantara kedua perempuan tersebut salah satunya ingin menyalakan api tetapi tidak memiliki korek api maka ia ingin meminta api ditetangga sebelah rumahnya. Ia pun segera memanggil tetangganya  tersebut dan meminta api dengan alasan dirumahnya tidak ada api. Tetapi kondisi pada saat itu hujan yang sangat deras sehingga keduanya tidak berani keluar untuk mengantarkan api atau mengambilkan api tersebut. Sehingga munculah ide dari keduanya untuk memperdayai  seekor anjing  yaitu dengan mengikat sebatang kayu api (dalam bahasa daerahnya disebut lunton api) diekor anjing  tersebut serta mengusirnya anjing tersebut ke arah rumah tentangga yang membutuhkan api. Namun  anjing tersebut meronta  kepanasan karena sebagian bulunya terbakar.Melihat hal tersebut Kedua orang ini pun tertawa terbahak .Tiba-tiba pada saat itu muncullah seorang lelaki yang mereka berdua pun tidak mengetahui asal usulnya, dan orang itu adalah orang asing bagi mereka. Ciri-ciri orang tersebut memiliki postur tubuh yang tinggi dan berjenggot serta ditangannya ada sebuah tongkat. Orang ini pun menatap kedua perempuan tersebut dan bertannya; Apa yang kalian lakukan dan apa yang membuat kalian tertawa? Pertanyaan tersebut dilontarkan sampai tiga kali kepada kedua perumpuan itu, tetapi keduanya membohongi orang tersebut dan mereka mengatakan bahwa mereka tidak melakukan apapun. Ketika mendengarkan jawaban tersebut, pada saat  itu juga  lelaki yang berjenggot tadi menancapkan  tongkat ke tanah. Seketika  itu munculah air dari tanah bekas tancapan tongkat tersebut,dan orang itu berpesan kepada kedua perempuan itu segera tinggalkan tempat ini dan selama kalian melakukan perjalanan jangan pernah menoleh kebelakang sampai kalian tiba ditempat tujuan. Setelah selesai berbicara laki-laki yang tak dikenali itupun langsung menghilang. Maka kedua perempuan itu pergi dan memberitahukan serta menceritakan semua kejadian kepada semua masyarakat yang masih dikebun dan mereka perintahkan untuk segera meninggalkan daerah tersebut karena kampung halaman mereka sudah dipenuhi dengar air dan sudah dalam keadaan tenggelam. Masyarakat Ngandong pada saat itu pun mulai pergi mencari daerah yang baru dan semuanya mulai berpencar untuk mencari tempat yang aman untuk bertahan hidup. Ada masyarakat lain mengungsi  ke arah timur yaitu diperkirakan mereka  menuju ke kampung Retas (suku Retas) namun belum sampai didaerah yang ditujui mereka memutuskan untuk berhenti sekedar beristirahat sejenak untuk melepas lelah. Namun mereka berbalik dan melihat kembali ke arah kampung halaman mereka,dan ketika mereka berbalik lagi dengan niat untuk melanjutkan perjalanan tiba-tiba mereka berubah menjadi batu.
***
Manusia dalam teks-teks keagamaan dan kepercayaan kuno disebut sebagai makhluk yang memiliki banyak keistimewaan bahkan di lukiskan hampir menyerupai Tuhan sehingga pada manusia diletakkan kata sempurna diantara ciptaan lainnya seperti alam, tumbuhan dan binatang. Sifat yang dimiliki oleh keempat makluk Tuhan yakni; alam memiliki sifat wujud, tumbuhan memilki sifat wujud dan hidup, binatang memilki sifat wujud, hidup dan dibekali nafsu dan terakhir adalah manusia memiliki sifat wujud, hidup, dibekali nafsu, serta akal budi. Dengan akal budi inilah manusia mampu mempelakukan sesuatu demi kepentingan hidupnya.
Manusia memiliki hubungan dengan lingkungan, dimana suatu lingkungan sangat mempengaruhi sikap dan prilaku manusia,demikian juga kehidupan manusia akan mempengaruhi juga lingkungan tempat hidupnya. Tata kelakuan (mores) manusia dalam suatu lingkungan adalah kebiasaan yang dianggap sebagai norma pengatur. Sifat norma ini disatu sisi sebagai pemaksa suatu perbuatan dan disisi lain sebagai suatu larangan. Dengan demikian tata kelakuan menjadi dapat menjadi acuan agar setiap manusia menyesuaikan diri dengan kelakuan yang ada serta meninggalkan perbuatan yang tidak sesuai dengan tata kelakuan.
 Religiusitas masyarakat mempercayai bahwa orang yang menghancurkan kampung Ngandong adalah Mbo Muri (Tuhan). Dengan kejadian di Ngandong ini, masyarakat beranggapan bahwa peristiwa tersebut merupakan suatu kejadian yang paling ditakuti sehingga sampai sekarang sangat takut dan  pemali jika menertawakan binatang atau hal lainnya secara berlebihan. Tradisi ini masih melekat dan diwarisi secara turun temurun walaupun hanya melalui cerita yang disampaikan secara verbal. Mereka meyakini jika mereka melakukan hal itu akan datang malapetaka bagi mereka. Dari kisah Ngandong yang diceritakan turun temurun  oleh para leluhur sampai sekarang ini memberikan suatu peneguhan kepada manusia agar saling menghormati segala ciptaan Tuhan.Segala larangan yang disampaikan oleh para leluhur masih terdengar sampai sekarang dan selalu kaitkan dengan peristiwa yang terjadi di Ngandong mereka sering mengungkapkan dan salah satu kalimatnya seperti ini “Za’a tawa ka’o, manuk dok sala rno dwos tana watu kudi lau Ngandong”. Ungkapan  ini yang artinya suatu larangan agar jangan tertawa anjing ataupun ayam nanti tanah yang kita tempati bisa tenggelam seperti di Ngandong.
 Dalam hal ini bukan hanya ayam ataupun anjing tetapi hal-hal lain yang dilakukan manusia secara sengaja dan tidak manusiawi seperti membuat patung dari tanah, melihat anjing sementara kawin dan dijadikan bahan candaan atau lelucon yang sangat berlebihan, maka kondisi alam akan tidak bersahabat dengan kita dan akan terjadi seperti angin puting beliung, disambar petir, dan akan terjadi hal lain yang tidak kita duga. Hal  seperti ini sudah sering terjadi dan menelan korban jiwa.
Kisah Ngandong kalau kita kaitkan dengan kisah  Sodom dan Gemora dalam kitab (Kejadian bab:19) memang kisahnya berbeda,waktu, dan tempat juga jelas berbeda tetapi dalam  kisah Sodom,Gemora dan kisah Ngandong terdapat kalimat berupa pesan yaitu (jangan menoleh kebelakang).
*Pesan yang pertama disampaikan kepada keluarga Lot ” Larilah, selamatkan nyawamu; jangalah menoleh ke belakang,dan janganlah berhenti di manapun juga di Lembah Yordan, larilah ke pegunungan,supaya engkau jangan mati lenyap’’ Tetapi pada saat itu Lot meminta kepada orang yang menuntunnya  agar ia lari ke sebuah kota kecil yang cukup dekat dengan Sodom,dan malaikat yang menuntun Lot pada saat itu menyetujui permintaannya sehingga kota yang ia hampiri tidak di hancurkan. Ketika Tuhan menurunkan hujan belerang dan api atas Sodom dan Gemora, namun istri Lot yang pada saat itu mengikutinya menoleh kebelakang menjadi tiang garam.
*Pesan yang kedua disampaikan kepada dua orang perumpuan di Ngandong yaitu” jangalah menoleh kebelakang, sampai kalian tiba ditempat tujuan” Namun masyarakat Ngandong yang mengungsi ke daerah timur melanggar pesan tersebut sehingga mereka menjadi batu.Dan batu itu masih berdiri kokoh di kampung Nampe desa Wolomeze 1 dan sampai saat ini  masyarakat setempat menyebutnya Watu Tedon.
Keterkaitan peristiwa di Sodom dan Ngandong  merupakan suatu bentuk kekecewaan Tuhan atas tingkah laku manusia baik terhadap sesama manusia dan makluk ciptaan Tuhan lainya.Secara historis kisah tentang Sodom dan Gemora memiliki bukti tertulis dalam Alkitab.Sedangkan kisah tentang tenggelamnya kampung Ngandong tidak memiliki bukti yang tertulis hanya diwarisi melalui cerita yang disampaikan secara lisan secara turun temurun.Namun hal yang meyakinkan kita dari dua peristiwa diatas yaitu melanggar pesan yang sebelumnya sudah disampaikan seperti istri Lot menjadi tiang garam, dan masyarakat Ngandong menjadi batu karena nenoleh kearah kampung halamanya.
 Asal usul Watu Tedon dan kisah tentang Ngandong tersebut memang sulit dibuktikan secara ilmiah mengingat tidak ada catatan sejarah mengenai Watu Tedon dan Ngandong  tetapi  kejadian masa lampau hanya diwariskan melalui cerita secara turun-temurun yang disampaikan secara verbal. Perlu kita sadari bahwa pada masa lampau tidak ada akses ke pendidikan,tidak mengenal budaya literasi, baik dalam konteks membaca ataupun menulis seperti sekarang ini.
Sekian
NB: Mohon kritikian dan saran dari saudara sekalian guna menyempurnakan tulisan ini.                                                            Terimakasih
Malang, 13 maret 2019
                                                                                                                   Penulis:
                                                                                                                   Adolfuz N AR

No comments:

Post a Comment