PERJALANAN KU MENUJU BUMI AREMA
Meninggalkan kampung
halaman merupakan hal yang sangat berat bagi siapa saja yang ingin bepergian
dalam jangka waktu yang cukup lama. Kita harus meninggalkan orang yang sangat
berarti dalam hidup kita, seperti berpisah dengan orang tua, sanak saudara, teman,
ataupun orang yang paling special dalam hidup kita. Namun karena niat dan
tujuan kita sudah bulat, walaupun berat hati terpaksa harus berpisah dengan
orang-orang yang kita sayangi.
Biasanya, ketika keesokan
harinya mau berangkat, pada malamnya
akan diadakan acara yang dihadiri oleh orang-orang terdekat, kehadiran
mereka merupakan salah satu faktor pendorong dan juga support serta motivasi
dengan berbagai pesan moral yang akan dijadikan suatu pegangan bagi kita. Selain
itu ada sebuah ritual pelepasan agar perjalanan kita selamat sampai tujuan. Ritual
ini dinamakan Pintu Pazir/pintu manuk. Ritual Pintu Pazir/pintu manuk merupakan
ritual untuk menghadirkan Tuhan dan para leluhur dengan tujuan meminta
perlindungan agar segala rencana baik kita dapat berjalan dengan baik pula. Ritual
seperti inilah sudah menjadi suatu kebiasaan didaerah ku dan diberlakukan bagi
siapa saja yang ingin berpergian dalam jangka waktu yang sangat lama, serta
memliki tujuan tertentu yang sudah direncanakan sebelumnya. Beberapa tahun yang
lalu, aku pernah merasakan hal ini dan rasanya begitu berat untuk melangkahkan
kaki dan meninggalkan kampung halaman. Namun demi mewujudkan masa depan dan
impian terpaksa kita harus rela meninggalkan semuanya walau dengan berat hati.
Tulisan ini adalah sebuah
kisah pribadi mengenai pengalaman yang pernah dirasakan oleh penulis. Yaitu
pengalaman perjalanan penulis mulai dari kampung halamannya hingga sampai di
tempat dimana ia merantau. Pada saat itu penulis merantau ke daerah Jawa untuk
belajar disalah satu perguruan tinggi di kota malang.
Tepatnya pada tanggal
14 agustus ditahun 2014. Ini merupakan moment bersejarah bagi ku karena ditanggal
itulah pertama kali aku memberanikan diri untuk pergi meninggalkan kampung
halaman. Sekitar jam 04;30 WITA aku terbangun ketika alarn di hp ku berbunyi. Aku
pun bangun dan segera mengecek barang- barang yang akan ku bawakan. Setelah
semuanya beres aku menuju dapur, ternyata mama sudah bangun dan sementara menyiapkan
makanan dan minuman. Tak lupa juga mama menyiapkan secangkir kopi hitam salah
satu minuman favourite ku yang aromanya sangat terasa hingga rasa ngantuk yang
ku rasakan pun hilang. Setelah semuanya sudah disiapkan, mama memanggil ku
untuk makan bersama. Sebentar lagi aku akan berangkat dan ini merupakan makan
terakhir bersama keluarga. Setelah nasi di piring sudah ku habisin, tinggal minuman
terakhir yaitu secangkir kopi hitam ku teguk secara berlahan sambil
mendengarkan setiap pembicaraan yang silih berganti baik dari bapa maupun mama.
Setiap pembicaraan mereka selalu mengarah kepada ku agar tetap menjadi pribadi yang baik dan bisa
beradaptasi di daerah yang ku tujui.
Setelah mendengar berbagai
pesan dari bapa dan mama. Aku pun tertegun sejenak dan mengangkat kepala. Dengan
wajah lesu, mata yang berkaca-kaca dan suara yang sedikit parau ku minta pamitan “ bapa, mama, saya mau jalan’’ disaat
itu isak tangis pun terjadi. Mama memeluk ku sambil menangis, disela
tangisannya ia mengatakan “ ia nak jalan baik-baik”. Disaat saya naik motor diboncengi oleh
seorang teman tiba-tiba mama memelukku sekali lagi sambil menangis. Inilah
perasaan orang tua, inilah perasaan seorang mama, yang selalu kwatir dengan
anaknya. Namun, aku berusaha tegar walaupun dengan berat hati ku tetap
berpamitan dengan mereka.
Dalam perjalanan dari
kampung menuju Bajawa tak ada kendala apapun, semuanya berjalan lancar dan tiba
di bajawa sekitar pukul 10:00 pagi. Aku singgah disebuah rumah makan dekat terminal
dan memesan makanan serta minuman. Sementara mencicipi makanan yang ada di
meja, pandanganku mengarah ke terminal sambil memperhatikan setiap kendaraan
yang keluar masuk terminal. Ada banyak kendaraan yang berlalu-lalang dan beberapa konjak bemo sedang sibuk mengangkat
barang belanjaan penumpangnya, ada juga yang berteriak untuk memberikan kode
kepada penumpang. Sedangkan banyak penumpang lainnya duduk diarea terminal dan
mereka sangat sibuk dengan aktivitasnya masing- masing.
Hari ini alam sangat
bersahabat. Langit begitu cerah panasnya matahari menusuk ubun-ubun tak ada
sedikit pun gumpalan awan menghalanginya. Sedangkan suasana terminal sangat
bising. Bunyian musik dari beberapa kendaraan roda empat yang sedang parker, membuat
para penghuni terminal menghentakan kaki mengikuti setiap alaunan musik.
Sungguh sangat asik, aku pun menikmatinya juga, sambil menyantap makanan padang.
Setelah selesai makan aku keluar dan berjalan menuju terminal dan duduk
diantara para penumpang lainya sambil menikmati sebatang rokok dan
menghembuskan asapnya secara berlahan. Yah!!
ini benar-benar nikmat kalau merokok setelah makan, dan memiliki rasa tersendiri yang sulit
untuk dilukiskan bagi para penikmat rokok. Banyak orang menulis caption tentang
rokok dan saya teringat sebuah caption yang
isinya seperti ini “ lelaki perokok itu imannya kuat, sudah jelas di bungkus
rokok ada tertulis merokok dapat
membunuh mu, tetapi seorang perokok tak mempedulikannya karena dia tau kematian
itu ada ditangan sang pencipta.’’ Hehe.. ini hanya sebuah caption. Mungkin
caption seperti ini dibuat oleh orang-orang tertentu, dan belum tentu orang
tersebut itu perokok. Mungkin dia adalah orang yang pandai merangkai kata- kata
dan tidak semua orang menyetujui hal akan tersebut.
Sebuah bis kayu melintas
dan berhenti di ujung terminal. Pandangan ku tertuju pada gambar dan tulisan
yang terpampang dibelakang bis kayu tersebut “ Pulang malu, Tak pulang rindu’’ .
Tulisan inilah yang membuat ku tersenyum dan aku berasumsi bahwa tulisan
tersebut sifatnya sangat kontradiktif. Aku tak mau mengalami hal tersebut yang
membuatku tertekan, aku ingin menjadi orang bebas tapi bermoral. Maka saya
berjanji pantang pulang sebelum berhasil, dan ketika ku pulang tanpa rasa ragu
dan tanpa menanggung malu, tapi pulang mengobati rasa rindu yang lama tak
bertemu. Tiba-tiba aku dikejutkan oleh suara klakson sebuah mobil avansa
berplat kuning berhenti tepat di depan ku. Ketika kumelihat ada sebuah tulisan
depan kaca mobil tersebut yaitu bajawa ende. Aku pun bangun lalu mendekati sopirnya dan menanyakan
kepastian serta melakukan negosiasi harga dengan sang supir. Setelah selesai
bicara dan sedikit berbasa basi ku menganggkat barang bawaan ku untuk
melanjutkan lagi perjalanan menuju kota ende.
Sekitar pukul 16;00 WITA
kami tiba di ende. Aku meminta sama sopir untuk mengantarkan ku ke alamat yang
sudah dikonfirmasi oleh saudara ku sebelumnya yaitu didepan salah satu kampus
yang ada di ende. Tak begitu lama saudara ku yang kuliah disana langsung
menjemput ku untuk menginap beberapa hari di kostannya. Setalah hampir dua hari
menginap saya mendapat kabar bahwa keesokan harinya ada jadwal kapal dengan
tujuan ende - Surabaya. Pada hari itu juga aku bersama saudara pergi ke tempat
penjualan tiket. Sayangnya sampai ditempat penjualan tiket tersebut antriannya
sangat panjang dan banyak orang berdesak-desakan untuk membeli tiket juga, Melihat
hal itu kami memutuskan untuk pulang dan pada keesokan harinya baru berhasil
membeli tiket.Walaupun masih berdesak-desakan seperti hari sebelumnya.
Jadwal keberangkatan kapal
sudah terlampir jelas dalam tiket, tinggal menunggu waktu untuk melanjutkan
perjalanan. Selama seharian aku merasa deg- degan karena dalam beberapa jam
lagi aku akan naik kapal. Entah apa yang ku pikirkan aku tak tahu, pokoknya
pikiran ku kacau dan menimbulkan berbagai pertanyaan Apakah aku harus melanjutkan
perjalanan? Ataukah aku harus pulang lagi ke kampung halaman? Ini menjadi
tantangan terberat bagi ku.Tak ada yang bisa menentukan pilihan, selain diriku sendiri
yang mengatasi hal ini. Mau pulang lagi pasti malu, dengan terpaksa harus
berjalan terus sesuai komitmen awal. Sebelumnya aku tak pernah jalan jauh sampai
menyebarangi lautan, dan tentunya ku tak punya pengalaman sama sekali. Bahkan ini
merupakan pertama kali ku naik kapal dan hanya bermodal nekad dan tekad yang
kuat untuk sampai ditempat tujuan. Banyak pikiran aneh melintas dibenakku
itulah membuat aku takut bagaimana yang akan terjadi selanjutnya. Aku tidak
punya teman, aku tak punya siapa-siapa dan mulai hari ini aku menjadi orang
asing didaerah perantauan. Apapun resikonya ku harus terima karena ini adalah pilihan ku
sendiri untuk berpetualang di tanah rantau demi masa depan yang masih abu-abu.
Saat yang ditunggu- tunggu pun tiba, aku diantar menuju pelabuhan oleh
saudara dan beberapa teman cewek yang kebetulan pada saat itu ingin
mengantarkan ku. Setelah sampai dipelabuhan aku kaget karena banyak penumpang
dengan berbagai barang bawaannya
berserakan disekitar mereka. Semua mereka menunggu kapal yang sama yang
sebentar lagi bersandar di pelabuhan. Tak lama kemudian kapal tersebut membuang
jangkar dan menurunkan penumpang di pelabuhan tersebut. Semua penumpang masih
tetap bersabar untuk menunggu giliran naik kapal. Aku masih tetap berdiri walaupun
barhampitan diantara penumpang lainya dan menahan tas yang selalu melekat
dibelakang punggung. Aku mulai merasa kepanasan sehingga tubuhku di banjiri
keringat pada saat itu. Walaupun berdesak-desakan akhirnya sampailah juga
ditangga naik menuju kapal. Saat itu saudara dan teman teman cewek memeluk ku
untuk perpisahan dan dibanjiri dengan air mata.Ada yang ucapin’’ ade jalan
hati-hati yah!! ada juga yang bilang” kak semoga tiba di tempat tujuan dengan
selamat’’.
Setelah berpamitan aku
langsung jalan menuju tangga kapal sambil melambaikan tangan untuk terakhir
kalinya. Setibanya didalam kapal aku kebingungan untuk mencari tempat istirahat
karena penumpang terlalu banyak. Aku merasa sudah terlalu kelelahan akhirnya meletakan
tas sembari menyandarkan badan ke dinding kapal. Tiba tiba terdengar orang berteriak;
tikar!!! tikar!! dan orang itu mendekati ku serta menawarkan
harga tikarnya, cuma 10 ribu dek, kata orang itu. Aku pun menyetujuinya serta
memberikan uang dan orang itu menyodorkan sebuah gulungan yang berwarna putih.
Aku sedikit kaget karena yang ku terima bukan tikar seperti yang ku kenal. Tetapi
ini sebuah wadah dari semen dan lengkap dengan tulisannya yaitu Semen Tonasa. Aku
pun tersenyum dan berguman wah dikampung kan barang seperti ini sangat banyak
dan orang menyebutnya bukan tikar tapi sak semen. Tapi aneh dikapal ini mereka
menjualnya dan bilang itu adalah tikar. Jangan jangan saya dibohongi, pikir ku.
Tapi keraguan ku terjawab setelah melihat beberapa orang berjalan kearah dimana
aku duduk. Selain mereka membawakan
barang barangnya dan ternyata ada sak semen juga. Aku kaget ternyata banyak
juga yang membeli bukan hanya aku saja. Aku mulai berpikir wahh mereka mencari uang kok sangat mudah yah, satu lembar sak
semen dijual dengan harga yang sangat
fantastis. Aku kagum sama penjual tersebut andaikan setiap kapal yang sandar
dan ia menjual seratus lembar sak semen dan dikali dengan sepuluh ribu woww
bisa kaya mendadak.
Hari sudah semakin malam kapal
belum juga jalan. Aku memperhatikan jam sudah menunjukan pukul 22;30 kedinginan
malam mulai terasa. Aku bersandar dipagar pembatas kapal sambil memperhatikan
setiap orang yang lewat dan mengharapkan mungkin diantara orang tersebut ada
yang ku kenal. Persis didepan ku ada seorang ibu yang sedang mengobrol dengan anaknya dan
sesekali ibu itu mengelus rambut si gadis cantik tersebut. Kelihatannya ibu ini
lagi mencertitakan hal yang sangat penting kepada gadis itu. Gadis cantik
tersebut sesekali melihat kearah ku dengan tatapan kosong lalu menunduk. Aku
berusaha untuk menebak kira-kira apa yang dipikirkan si gadis itu. Namun ku tak
menemukan jawabannya. Pikiran ku mulai terbagi ketika mendengar sirena kapal,
dan terdengar informasi dari pihak kapal dengan pemberitahuan bahwa dalam waktu
sepuluh menit lagi kapal akan berangkat dan meninggalkan pelabuhan dan menuju
pelabuhan berikutnya.
Mendengar informasi
tersebut semua pengantar dan para pedagang asongan mulai beranjak turun dari
kapal. Akan tetapi pandangan ku tak terlepas dari seorang ibu dan anaknya yang
saling berpelukan. Disaat itu juga aku teringat akan kampung halaman dan orang-orang
yang saya cintai. Bayangan wajah mama terlintas di depan ku karena aku tahu
mama pasti mengkwatirkan ku. Sebenarnya saat itu aku bisa menahan air mata.
Tapi karena melihat ibu dan anaknya yang saling berpelukan dan diiringi dengan
tangisan. Hal inilah yang membuat ku terharu sampai meneteskan air mata. Ibu itu
memeluk anaknya sambil menangis, disela tangisnya ia bilang ke anaknya ” nak
jalan baik- baik mama mau turun, ingat jaga barang baik baik’’. Ibu itu melepaskan
pelukan dengan anaknya sembari berjalan menuju ke tangga turun dan melambaikan
tangan. Gadis itu tak mampu melihat ibunya yang sementara jalan menuju ke
tangga. Malah gadis ini melihat kearahku dan mejatuhkan air mata. Jujur aku tak mampu lagi
membendung air mata, aku pun berbalik arah dan merebahkan tubuh ke lantai kapal
yang beralasankan sak semen sambil memeluk tas dan menangis. Aku benar-benar merasa
sedih pada saat itu. Aku mengingat kembali setiap kata-kata yang keluar dari
mulut mama dan begitu banyak pesan yang menyentuh dihati. Sekarang kapal telah
melepas jangkar kini aku menjadi orang asing dikapal ini, aku tak punya siapa-siapa
tak ada yang aku kenal. Kini hanya air mata kesedihan yang menghampiri ku.
Gadis itu telah hilang dari
hadapan ku, entah kemana. Aku tak tahu .Gara-gara dialah tampang preman ku dan
berwajah seram pun hilang dan dalam sekejap aku berubah menjadi seorang lelaki
cengeng. Aku baru menyadari aku sudah dewasa. Tapi aku menjatuhkan air mata.
Laki kok nangis, laki kok cengeng. hehehe. Air mataku benar-benar telah kering,
Aku mengeluarkan rokok dan menyulut sebatang dan membakarnya. Sambil menikmati
setiap hembusan asap yang keluar dari mulut sembari melihat kerah lautan yang
gelap tak bercahaya. Tiba tiba pundak ku ditepuki oleh dua orang anak muda
untuk meminta korek api. Kedua pemuda ini menyodorkan tangannya sambil
berkenalan. Setelah kami berkenalan dan bercerita serta menanyakan tujuan yang
akan ditujui ternyata kami memiliki tujuan yang sama yaitu Surabaya. Pada saat
itu aku merasa sedikit lega setelah ku mendapatkan teman yang baru. walaupun
kami baru berkenalan tapi rasanya sangat akrab sekali dan mereka mengajak ku serta
mengangkat barang bawaan ku ketempat yang mereka sediakan.
Malam semakin larut,
suasana dikapal semakin asik. Ada yang bercerita, ada yang main kartu,ada yang
sementara berbaring, ada pula yang tertidur pulas. Udara di kapal yang cukup
panas membuat ku tak mampu menahan derasnya keringat yang bercucuran membasahi
sekujur tubuh. Itulah yang membuatku tak betah tinggal dalam dek kapal pengap.
Untuk mengatasi hal tersebut ku harus keluar duit dan menuju kafe untuk bisa
menikmati segelas kopi. Suasana di luar memang sangat nyaman, kita tidak merasa
gerah, atau pun panas. Hembusan angin malam menggoyah jiwa dan raga, deburan
ombak berkali kali menghantam badan kapal. Membuat jantung ku sedekit berdebar.
Tanpa disadari secangkir kopi telah ku habisi, ku harus kembali merebahkan
badan karena waktu sudah malam.
Fajar baru telah muncul di
ujung timur, cahayanya membias ke segala penjuru, angin pagi yang sejuk menghapus
bau dan keringatan semalam. Ku duduk diatas begasi kapal menatap ke segala arah
sambil menerka-nerka dimanakah kampung ku berada. Panggilan makan pagi sudah terdengar.
Dengan wajah sedikit pucat ku berjalan menuju kamar mandi sekedar membersihkan
wajah. Biar kelihatan cerah secerah mentari pagi. Setelah dari kamar mandi ku
menuju antrian bersama penumpang lainnya untuk mengambil makan pagi. Makanan
didalam kapal tak sebanyak yang kita makan dirumah sendiri. Dalam kapal kita
hanya mendapatkan sekotak makanan dengan nasi dan lauknya cuma sedikit. Sedangkan
di rumah porsi makan ku cukup lumayan, tumpukan nasi dipiring bagaikan gunung
itu pun masih kurang dan pasti ada penambahan kuota nasi gelombang berikutnya. Sehingga
permintaan ruang tengah pun bisa terpenuhi. Aku teringat seorang teman pernah
mengatakan kepadaku “kalau di kapal harus persiapkan uang yang cukup dan kalau lapar
tinggal beli lagi, tapi harganya lumayan mahal tak sebanding dengan harga yang
kita dapatkan di darat’’. Hal ini aku baru menyadarinya ternyata benar apa yang
dikatakan teman ku.
Satu persatu pelabuhan ku
singgahi dan antrian penumpang bagaikan semut memenuhi pelabuhan, ada yang
turun ada pula yang naik kapal. Perhentian kapal disetiap pelabuhan cukup lama.
Sehingga moment itulah ku manfaatkan dengan baik dan menikmati pemandang serta
mengamati setiap pelabuhan yang di singgahi. Hal ini berbeda dengan pedangang
asongan mereka memanfaatkan waktu tersebut dengan menjual barang- barang
daganganya. Sehingga dalam beberapa jam kapal bagaikan pasar dipenuhi dengan penjual-penjual
yang menawarkan barangnya kepada penumpang kapal. Memang mencari nafkah itu
tidak semudah membalikkan telapak tangan tetapi harus bekerja keras demi
memenuhi kebutuhan. Pedagang asongan ini memberikan sebuah signal kepada ku
bahwa hidup itu butuh perjuangan, kerja keras, dan membaca peluang serta
memanfaatkannya.
Kapal tua yang aku
tumpangi, merupakan kapal yang cukup tangguh dan membawa ribuan penumpang. Dengan
gagah beraninya mengarungi lautan luas dan melewati beberapa selat. Hantaman
ombak yang cukup deras membuat kapal tua ini pun sedikit oleng seperti bis kayu
melewati jalan berlubang. Kepala ku terasa pusing dan jalan satu-satunya harus
berbaring untuk mengurangi rasa mual. Maklum aku anak desa yang baru pertama
kali menumpang kapal dan dilahirkan didaerah pedalaman bukan dari kalangan
nelayan, sehingga lihat laut pun jarang. Aku takut sama kedalaman lautan. Tapi aku
tak kan takut menyelami sampai kedalaman hati mu.hehe sedikit gombal. Jangankan
air laut, kolam pun aku tak berani. Hanya doa dan berharap agar kapal ini tiba
di tempat tujuan dengan selamat. Sampai akhirnya aku pun tidur terlelap.
Kapal berjalan sangat
lambat. Aku keluar menuju bagasi kapal. Tanpa sengaja, senja menyapa ku dengan
ramah. Wow..Terima kasih sang waktu yang telah memberikan keistimewaan di sore
ini. Warna kemerahan menghiasi langit di ufuk barat yang sebentar lagi pergi
bersama indahnya malam. Rupanya dia bersama senja, langit malam tak mungkin
meminangnya karena dia bersama bintang. Aku yakin, ku tak mungkin kesepian. Aku
berani menggapainya, walaupun ku harus rela merajut kasih dilangit hitam. Sosok
itu muncul dari seberang sana, seraut wajah mungil menyapa ku sambil tersenyum.
Inilah dia sang bidadari titipan sahabat ku yang ku cari dari hari-hari
kemarin. Kini kami saling menyapa, mengumbar senyum sambil memendam rasa. Pelabuhan
Benoa Bali menjadi saksi mata pertemuan kami yang tak terduga. Kelap kelip
lampu kapal menghiasi gelapnya malam. Kapal-kapal pun saling menyapa dengan
membunyikan suara sirenenya. Hati ku berbunga-bunga seperti tempiasan kembangan
api menghiasi langit di bibir pantai Benoa Bali. Gadis dari sahabat ku yang
saat itu memakai baju bola masih bercanda dan berbasa basi dihadapan ku. Sesekali
tanpa sengaja kami saling bertatapan, lalu berpaling dan tersenyum. Ada apa
yah?? Hehe Mungkin diantara kami ada hal
tertentu yang tak bisa diungkapkan pada saat itu. Biarlah ini menjadi misteri.
Kapal berangsur pergi
meninggalkan pelabuhan Benoa Bali. Dalam beberapa jam lagi aku akan sampai pada
pelabuhan terakhir. Penumpang di dalam kapal pun sedikit berkurang dan banyak
yang turun dipelabuhan sebelumnya. Suasana didek enam sangat akrab mungkin
karena hampir tiga hari lamanya menjadi penghuni kapal sehingga dengan
sendirinya mulai muncul rasa keakraban antara satu dengan yang lainnya. Semua
kami merupakan calon anak perantauan sekaligus calon maba alias mahasiswa baru
dan rata-rata baru pertama kali naik kapal. Kami menceritakan keraguan kami
masing-masing dan semua yang kami alami hampir sama yaitu bagaimana menghadapi
situasi diaerah yang nantinya kami ditujui. Berbagai kampus telah mereka
sebutin untuk daftar kuliah. Sedangkan aku masih bingung dan kampus apa yang akan
ku daftar nanti. Semuanya aku tak tahu. Jangan kan hal itu, daerah yang ku
tujui ini tidak ada bayangan sedikit pun
dalam benak ku. Semuanya kosong .Tak ada bayangan atau gambaran sedikit pun.
Setelah hampir sehari
perjalanan dan tinggal beberapa jam lagi kapal akan mendekati pelabuhan perak
Surabaya. Cahaya lampu sepanjang pesisir mulai kelihatan sedangkan kapal kapal
hampir berjejeran dan berjalan dengan pelan mendekati pelabuhan. Sebagian
penumpang berbaris diteras kapal menikmati pemandang pesisir di malam hari. Ada
pula beberapa penumpang memanfaatkan waktu tersisa dengan foto bersama dengan
berlatarkan cahaya lampu yang berada di kejauhan sana. Kapal semakin mendekati
pelabuhan pemandangan sudah sangat terlihat jelas. Sebentar lagi tanah jawa ku
tapaki. Pemandangan disini luar biasa. Indahnya bagaikan surga. Cahaya lampu
berkilau dimana-mana seakan-akan sulit untuk membedakan antara siang dan malam.
Sedangkan didaerah ku masih gelap gulita, hanya cahaya pelita bisa menerangi
malam dan ku lukiskan rasa kebahagian lewat cahayanya yang muncul dari celah-celah
dinding. Walaupun tak bertahan lama ia akan padam bila minyaknya habis atau
padam diterpa angin. Tetapi ku tetap
bahagia dan tidur terlelap walau dalam gelap tapi selalu ada ketenangan dan
kedamaian terukir disana.
Tepat pukul 23.30 kapal telah sandar di pelabuhan
perak Surabaya. Semua penumpang menuju tangga turun dengan membawa
barang-barangnya. Ada seorang cewek meminta bantuan ku untuk membawakan kopernya,
kebetulan barang bawaan ku tak banyak dan aku pun mengiyakannya. Dalam
perjalanan menuju tangga kapal cewek ini terpisah dengan ku. Setelah tiba
diarea pelabuhan ku coba mencarinya namun karena banyaknya penumpang aku tak
melihatnya. Teman ku memberikan saran agar menunggu cewek pemilik koper tadi di
pintu gerbang keluar pelabuhan. Sesampainya di gerbang tersebut banyak para
sopir menawarkan jasa untuk diantarkan ke tempat yang kita tujui. Rupanya ada
seseorang yang sedang menungguku di
pintu gerbang tersebut. Dialah orang yang menjemputku pada saat itu. Kami langsung
menuju mobil dan mengatur barang-barang. Setelah semua barang sudah ditaruh
dalam begasi mobil hanya tinggal satu koper yang tak ku ijinkan untuk dimasukan
kedalam bagasi. Aku segera mencari si cewek tadi diantara kerumunan orang
banyak. Selama di kapal kami tinggal sama-sama dalam satu dek cuma kami belum
memperkenalkan nama atau saling menukar nomor telpon. Kami saling bercanda dan
bercerita layaknya seperti yang sudah berkenalan lama sebelumnya dan sungguh
aku tak pernah tahu kalau akan terjadi seperti ini.
Setelah hampir setengah jam
mondar mandir mencari cewek tersebut belum juga ku temui. Aku hanya ingat
pakian yang dipakai cewek tersebut dia memakai baju warna kuning, celana
pendek, memakai slempang dilehernya, dengan ciri-ciri tidak terlalu tinggi, dan
berkulit putih. Aku kembali ketempat parkiran mobil dan meminta ijin untuk
bersabar karena aku harus mencari si cewek tersebut. Sempat kaka yang menjemput
ku memberikan saran untuk membawa kopernya ke malang nanti baru dicek isi
kopernya untuk mencari identitasnya. Namun menolak ide tersebut dan aku harus tetap
mencarinya, aku tak mau membuat cewek ini beban. Aku kasihan denganya pasti dia
memikirkan barang-barangnya. Aku yakin pasti dia sedangkan mencarikan aku untuk
mengambil kopernya. Setelah berjalan beberapa meter dari parkiran mobil aku
melihat cewek si cewek tersebut. Ia sangat
panik saat itu dan pandangannya melihat ke berbagai arah. Aku mendekatinya dan
memberitahu kopernya ada di mobil dia mengucapkan banyak terimakasih pada saat
itu dan sempat memberikan sejumlah uang kepada ku, tapi aku menolaknya. Ia
segera mengambil kopernya sambil memberi ucapan terimaksih sekali lagi terus
pamit lalu pergi.
Setelah berpisah dengan
cewek tadi. Aku melihat gadis dari sahabat ku berdiri dekat sebuah mobil sambil
menunggu sopirnya sedang mengatur barang-barang. Aku mendekati dan menyapanya
ia sempat menawarkan ku untuk satu mobil bersamanya. Tapi ku menolak karena aku
sudah ada jemputan. Setelah barang-barang mereka sudah beres semuanya mobil
yang ditumpangi gadis ini meninggalkan pelabuhan. Setengah jam kemudian mobil
yang ku tumpangi ini beranjak pergi menuju kota yang ku tujui. Mobil melaju
dengan kecepatan sedang kami duduk berhimpitan dengan penumpang lainya. Lagu
gawi khas daerah ende menghibur kami
malam itu sampai aku tertidur dan terbangun disaat mobil sudah berhenti di bumi
Arema. Aku merasa bersyukur walaupun perjalanan yang cukup melelahkan namun tiba
di kota Malang dengan selamat. Kota inilah ku pertaruhan nasib selama empat
setengah tahun.
SEKIAN
Malang, 25 April 2019
Penulis: AdolfuZ N. AR